Mahasiswa Farmasi Kebingungan

Mahasiswa Farmasi Kebingungan!!!

          Tiada terasa, beberapa pekan lagi keluarga besar mahasiswa farmasi Indonesia akan memiliki sanak saudara baru. Sekumpulan calon saudara baru tersebut bernama calon mahasiswa farmasi. Selamat datang di dunia farmasi (dunia perkuliahan), dunia saintis yang berbeda dari dunia perkuliahan sosial dan dunia yang cenderung tertutup dari dunia luar jika anda terlena dalam sistem perkuliahan dan tidak mau membuka mata. Namun, menjadi mahasiswa farmasi adalah suatu kebanggaan karena ilmu-ilmu kefarmasian sangat aplikatif buat masyarakat dan tidak hanya sekedar omong kosong belaka tapi berdasarkan ilmu pengetahuan. Abdikan ilmu-ilmu yang didapat sejak dini, sejak bangku kuliah.. So, selamat ya...

         Berbicara mengenai mahasiswa baru, bicara mengenai potensi mahasiswa dan inisiasi ke depannya. Satu pertanyaan yang sangat menarik bagi saya ketika berbincang pertama kali dengan maba, “dek, kenapa memilih farmasi?”. Kebanyakan jawaban dari mereka adalah disuruh ortu atau nyasar. Hhmm... Suatu permasalahan tersendiri. Semakin lama berada dalam dunia mahasiswa farmasi tidak hanya intra tapi juga ekstra kampus, semakin saya menyadari bahwa kebanyakan dari para mahasiswa farmasi saat ini kebingungan maupuin kehilangan arah. Salah satu kemungkinan dari lost-oriented nya disebabkan oleh motivasi mereka untuk memutuskan hidup sebagai calon apoteker seperti yang telah diperbincangkan di atas. Terlebih lagi selama duduk di bangku mahasiswa, beliau2 sangat menikmati kehidupanny sebagai “mahasiswa SMA”(status aja mhs, namun jalan pemikiran dan aktivitas masih seperti ank SMA).

          Dunia kefarmasian adalah dunia yang sangat luas. Farmasis tidak hanya diharapkan memiliki kompetensi yang mumpuni dalam dunia obat-obatan, namun lebih luas daripada itu meliputi sediaan farmasi yang terdiri atas obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika. Berdasarkan struktural di Badan POM RI sebagai salah satu wahana pengabdian farmasis, dibagi atas 3 bagian, yaitu obat-obatan, makanan-minuman(ma-min) dan kosmetika. Tidakkah itu sangat luas? Apakah waktu 4+1 cukup untuk melahirkan high competences pharmacist?

        Dunia kefarmasian adalah dunia yang sangat kompleks. Masyarakat mengenal apoteker sebagai penjual obat, kerja di apotek, syukur kalau ada yang sudah paham apoteker juga dapat bertugas di rumah sakit dan berbagai sarana kesehatan lainya. Namun, sekali lagi apakah jobdesk apoteker dalam dunia obat-obatan se-sempit itu? Tentu saja tidak kawan...
         Berdasarkan PP 51/2009 sangat jelas diterangkan bahwa pekerjaan kefarmasian meliputi daerah hulu-hilir, mulai dari pembuatan obat hingga pendistribusian dan pelayanan obat hingga ke tangan pasien. Sangat luas bukan? Oleh karena itu, tidak sepantasnya seorang apoteker hidup serba kekurangan dan seorang apoteker sangat berpotensi rangkap jabatan sebagai pengusaha, bukan hanya menjadi “budak-budak-kapitalis” atau sekedar menjadi “konsultan obat” sejak lulus hingga pensiun.

          Berbicara mengenai kuliah, ingatan langsung terpatri pada laporan, praktikum, persentasi dan tugas-tugas yang menumpuk lainnya. Belum lagi dengan berbagai project penelitian yang sedang digarap. Semakin membuat pikiran semakin pusing. Setuju?
Namun, apa final goal dari ini semua? Jadi apoteker pasti, tapi jadi apoteker yang mana?

      Silahkan temen2 tanya kepada kakak angkatan tingkat akhir maupun yang sedang menjalani perkuliahan profesi apoteker sekalipun, tak jarang mereka masih gamang ketika menjawab ingin menjadi apoteker yang mana. Lalu? Lagi-lagi apoteker yang tidak berkarakter dilahirkan. Mengutip pernyataan bung karno yang menyatakan bahwa hal mendasar dalam pembangunan SDM ialah pembangunan karakter. Ketika karakter itu tidak ada, maka kita akan menjadi budak di rumah sendiri. Seperti itu pula nasib apoteker. Ketika semakin banyak apoteker non-karakter tersebut lahir, maka masyarakat dan kehidupan keprofesian yang sangat dirugikan karena mereka akan bekerja seadanya dan rela untuk digaji seikhlasnya. Adalah suatu hal yang wajar apabila seorang manusia mampu memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Apabila seseorang tersebut hanya digaji seikhlasnya, maka akan sangat wajar beliau akan mencari berbagai pekerjaan sampingan lainnya atau malah dijadikan kerjaan sampingan. Apabila hal ini sudah terjadi, maka akses masyarakat untuk dapat berkonsultasi mengenai obat dengan apoteker semakin langka dan masyarakat pun akan mencari profesi kesehatan lainnya yang dapat memenuhi kebutuhan mereka mengenai penggunaan obat walaupun baik secara ilmu pengetahuan maupun peraturan yang berlaku profesi kesehatan tersebut tidak memiliki wewenang dan unqualified. Pada akhirnya, para apoteker non-karakter tersebut hanya akan menjadi benalu bagi kehidupan keprofesian yang ingin lebih mendekatkan diri dan memiliki niat tulus untuk dapat mengabdi ke masyarakat.

       Adek-adek maba masih sangat lugu serta terlalu polos dan belum terlalu mengerti mengenai gambaran kehidupan kefarmasian apalagi kehidupan kefarmasian yang sesunguhnya. Adalah tugas kita sebagai para senior untuk dapat mengarahkan mereka akan menjadi apa mereka kelak. Pharmacist Character building dimulai sejak gong tanda dimulainya masa-masa ospek didengungkan. Lingkungan sangat berpengaruh pada Pharmacist Character building daripada kuliah didalam ruangan ber-ac yang berjumlah total 144 sks.

Sosialisasikan kepada mereka sedikit tentang kehidupan kefarmasian, yaitu dunia kefarmasian tidak hanya dunia apotek belaka tapi jauh lebih luas daripada itu. Menjadi farmasis adalah tugas yang sangat mulia apabila pelayanan kefarmasian dapat ditegakkan dan dijalankan dengan baik. Kenalkan kepada mereka dunia perkuliahan farmasi merupakan dunia yang sangat scientific dan mereka akan jauh lebih sering kontak dengan tikus/mencit sebagi pasien(hewan uji) daripada manusia. Beritahu mereka dunia kefarmasian tidak hanya terbatas pada drug counseling, pembuatan obat maupun penelitian. Namun, ada begitu banyak kebijakan-kebijakan kesehatan dan kefarmasian khususnya yang butuh perhatian dan pengawalan ketat dari seorang apoteker.

Sekali lagi inilah farmasi, dunia yang sangat kompleks dan terdapat begitu banyak pilihan dan kesempatan didalamnya. Kenali dan buatlah pilihan maka Jadilah seorang apoteker yang ber-karakter...



Salam Mahasiswa,
Nanda Resa Pratama dan mahasiswa Farmasi DIY-Jateng